Timesnusantara.com – KUTAI TIMUR – Perkembangan infrastruktur di kawasan Sangsaka dinilai semakin membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir Kutai Timur. Keberadaan perusahaan, modernisasi sektor pertanian hingga membaiknya konektivitas jalan menjadi sejumlah indikator yang disoroti Camat Sangkulirang Cipto Buntoro.
Cipto mengatakan perubahan ekonomi masyarakat di Sangkulirang dan kawasan Sangsaka terlihat dari aktivitas sehari-hari masyarakat maupun berkembangnya kegiatan usaha.
“Kalau perkembangan ekonomi di wilayah Sangkulirang atau Sangsaka, secara kasat mata kita lihat memang luar biasa perkembangannya,” kata Cipto saat diwawancarai di Kantor DPRD Kutai Timur, Rabu (23/9/2026).
Ia menyebut salah satu faktor yang mendorong aktivitas ekonomi adalah keberadaan perusahaan pertambangan maupun perkebunan di kawasan tersebut. Di sisi lain, sektor pertanian masyarakat juga mengalami perubahan melalui penggunaan peralatan yang semakin modern.
Menurut Cipto, peningkatan kemampuan ekonomi juga dapat terlihat dari perubahan pola konsumsi dan kepemilikan sarana transportasi masyarakat.
Namun penguatan ekonomi, menurutnya, tetap membutuhkan konektivitas antarwilayah yang memadai.
Cipto menyoroti pembangunan ruas jalan dari Sangkulirang menuju Kaubun hingga Karangan serta keberadaan Jembatan Nibung yang kini menjadi salah satu infrastruktur penting di kawasan tersebut.
Jembatan Nibung sepanjang sekitar 390 meter diresmikan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud pada 24 Februari 2026. Infrastruktur tersebut menghubungkan Desa Kadungan Jaya di Kecamatan Kaubun dengan Desa Pelawan di Kecamatan Sangkulirang.
Menurut Cipto, keberadaan jembatan tersebut tidak hanya memudahkan mobilitas antarkecamatan, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari jalur alternatif menuju wilayah Berau.
Ia berharap rencana penyambungan akses dari kawasan Jembatan Nibung menuju Biatan dapat segera direalisasikan.
“Kemarin sudah dihubungi oleh PU Provinsi untuk rencana akses jalan berkaitan pembangunan jalan dari Jembatan Nibung menuju Biatan. Mudah-mudahan tahun 2026 ini sudah ada tanda-tanda realisasinya,” ujarnya.
Rencana konektivitas Pelawan–Biatan memang telah masuk dalam kajian. Studi kelayakan yang terbit pada 2025 membahas jalan penghubung Pelawan atau Jembatan Nibung menuju Biatan Simpang KM 46 sebagai upaya memperkuat konektivitas wilayah.
Cipto melihat jalur tersebut memiliki nilai strategis karena selain mempersingkat hubungan Kutai Timur dan Berau, kawasan yang dilewati juga memiliki sejumlah potensi wisata pesisir.
Ia menyebut Pulau Miang, Pantai Marang, Pantai Sekerat serta sejumlah destinasi di wilayah pesisir utara sebagai potensi yang dapat berkembang seiring semakin terbukanya konektivitas.
“Kalau jalan sama-sama bagus, ke depan kemungkinan akan semakin ramai yang lewat Jembatan Nibung atau jalur pantai karena di sepanjang jalur itu ada beberapa destinasi wisata,” katanya.
Dengan konektivitas yang semakin terbuka, Cipto berharap manfaat pembangunan tidak hanya memperlancar perjalanan, tetapi juga mendorong perdagangan, pertanian, pariwisata, UMKM dan aktivitas ekonomi masyarakat di lima kecamatan kawasan Sangsaka. (ADV/Kutim).
Editor : RF
Sumber : ALW
