Timesnusantara.com – KUTIM – Upaya membawa kawasan Sangkulirang-Mangkalihat menuju Geopark Nasional harus dibarengi dengan komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pelestarian alam, sumber air dan kawasan karst dinilai menjadi modal penting agar potensi pariwisata dan ekonomi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Camat Sangkulirang Cipto Buntoro mengatakan masyarakat di kawasan Sangkulirang memiliki peranan besar dalam mendukung proses pengembangan geopark.
“Harapan kami kepada masyarakat agar selalu menjaga kelestarian alam dan lingkungan supaya potensi yang ada tetap terjaga, termasuk sumber-sumber air,” ujar Cipto saat diwawancarai di Kantor DPRD Kutai Timur, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah bersama masyarakat selama ini telah melakukan berbagai kegiatan promosi, sosialisasi dan pengawalan terhadap pengembangan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat.
Target awalnya adalah mendapatkan pengakuan sebagai Geopark Nasional sebelum melangkah menuju pengakuan yang lebih luas pada masa mendatang.
Proses tersebut telah memasuki tahapan penting pada 2026. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemkab Kutim mendorong Sangkulirang-Mangkalihat menjadi Geopark Nasional dan menempatkan pengakuan UNESCO Global Geopark sebagai sasaran jangka panjang.
Pada Juli 2026, Tim Verifikasi Geopark Nasional juga melakukan penilaian lapangan terhadap sejumlah geosite di Kutai Timur dan Berau. Lokasi yang dikunjungi di Kutim antara lain situs budaya di Sangatta, Liang Tewet di Bengalon, Air Terjun Tangga Bidadari di Kaliorang hingga Gua Mengkuris di Karangan.
Cipto menilai pengembangan geopark tidak boleh hanya dilihat sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisata. Pelestarian kawasan menjadi hal utama agar kekayaan alam dapat diwariskan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep pengembangan geopark yang menempatkan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai tiga unsur utama. Tim Verifikasi Geopark Nasional juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan.
Di kawasan Sangsaka sendiri, potensi wisata tersebar dari bentang alam karst hingga wilayah pesisir dan kepulauan. Salah satunya Pulau Miang di Kecamatan Sangkulirang yang saat ini juga sedang dipersiapkan sebagai kawasan wisata bahari secara lebih terarah.
Cipto berharap terbukanya infrastruktur jalan dan meningkatnya layanan dasar dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian.
Menurutnya, perkembangan kawasan Sangkulirang dan sekitarnya tidak seharusnya mengorbankan sumber daya alam yang justru menjadi kekuatan utama daerah tersebut.
Karena itu, keterlibatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dibutuhkan agar potensi geopark, pariwisata, pertanian serta kegiatan ekonomi dapat tumbuh secara seimbang.
“Potensi-potensi yang ada harus dijaga. Termasuk sumber air dan lingkungan, supaya pembangunan yang berjalan juga tetap bisa dinikmati masyarakat ke depan,” pungkas Cipto. (ADV/KUTIM).
Editor : RF
Sumber : ALW
