Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Bibit prestasi olahraga tidak lahir dalam semalam. Pembinaan sejak usia dini menjadi salah satu fondasi yang terus didorong Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur agar daerah memiliki generasi atlet yang mampu berkembang dan berprestasi pada masa mendatang.

Kepala Dispora Kutai Timur Basuki Isnawan mengatakan, potensi anak-anak dalam bidang olahraga terlihat dari berbagai kegiatan yang digelar di fasilitas olahraga daerah. Hal tersebut disampaikannya ketika ditemui di GOR Kudungga, Jumat (2/9/2026).

Menurut Basuki, penampilan atlet-atlet berusia muda menjadi gambaran bahwa proses pembinaan telah dilakukan. Pemerintah daerah selanjutnya mempunyai tanggung jawab menyediakan ruang agar kemampuan tersebut dapat terus diasah melalui latihan, kompetisi serta kegiatan olahraga yang berkelanjutan.

“Kita bisa lihat semuanya, bisa hadir pembinaan usia dini juga. Itu menunjukkan tadi bahwasannya Kutai Timur ini sudah melakukan pembinaan usia dini,” ujar Basuki.

Ia mengatakan anak-anak yang tampil dalam kegiatan olahraga menunjukkan kemampuan dan potensi yang patut mendapatkan perhatian. Pembinaan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencetak juara dalam waktu singkat, tetapi menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan olahraga Kutai Timur.

Basuki menilai pemerintah harus membuka kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakat. Keberadaan sarana seperti stadion, GOR, lapangan maupun fasilitas pendukung lainnya menjadi penting karena atlet muda membutuhkan tempat latihan yang memadai.

“Tadi kita lihat semua yang tampil adalah anak-anak usia dini yang memiliki prestasi yang luar biasa. Artinya pemerintah harus memberikan ruang buat kita semuanya,” katanya.

Selain pembinaan atlet muda, Dispora Kutim juga mendorong agar olahraga semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Olahraga tidak hanya dipandang dari sisi kompetisi, melainkan juga sebagai sarana membentuk kesehatan dan kebugaran masyarakat,” tuturnya.

Basuki menyebut konsep tersebut sejalan dengan semangat memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Dengan masyarakat yang sehat, aktivitas sosial dan pembangunan daerah dinilai dapat berjalan lebih optimal.

Pembinaan juga mencakup olahraga prestasi, olahraga rekreasi, serta kegiatan bagi penyandang disabilitas.

“Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa fasilitas dan program olahraga dapat dimanfaatkan berbagai kelompok masyarakat tanpa terkecuali,” tandasnya.

Dalam konteks prestasi, proses pembinaan usia dini mempunyai hubungan erat dengan keberlangsungan regenerasi atlet. Atlet senior pada akhirnya membutuhkan penerus yang telah dibina melalui proses latihan panjang dan kompetisi berjenjang.

Karena itu, kegiatan olahraga yang menghadirkan anak-anak dinilai bukan sebatas hiburan. Ajang tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pelatih dan pengurus cabang olahraga untuk melihat potensi sekaligus memberikan pengalaman bertanding kepada atlet muda.(ADV/KUTIM).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *