Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Basuki Isnawan, berharap penyelenggaraan olahraga tradisional dalam rangkaian Erau Adat Pelas Benua dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

Kehadiran pertandingan olahraga tradisional dinilai berpotensi menambah daya tarik kegiatan adat sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga kekayaan budaya daerah.

Hal tersebut menjadi perhatian seiring berlangsungnya rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026 yang dimulai pada Jumat (9/10/2026), di kawasan Rumah Adat Kutai, Sangatta.

Basuki berharap kegiatan olahraga tradisional tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dapat diperbanyak pada pelaksanaan Erau berikutnya.

“Kita harapkan tahun depan kegiatan serupa tetap ditampilkan. Jika memungkinkan, permainan dan perlombaan tradisional diperbanyak lagi,” harap Basuki.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, sejumlah cabang olahraga tradisional ditampilkan untuk memeriahkan kegiatan adat, di antaranya menyumpit, begasing, belogo, dan ketapel.

Permainan tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang mengandalkan ketangkasan, keterampilan, ketelitian, serta kemampuan peserta dalam menguasai teknik permainan.

Selain menjadi sarana kompetisi, kehadiran olahraga tradisional turut memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali permainan yang menjadi bagian dari kehidupan generasi terdahulu.

Basuki memandang kegiatan seperti ini memiliki nilai positif karena dapat menghubungkan aktivitas olahraga dengan upaya menghargai sejarah dan kebudayaan daerah.

“Harapan saya, kegiatan seperti ini sangat bagus,” tuturnya.

Menurutnya, pengenalan olahraga tradisional perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tidak hanya menjadi tontonan ketika berlangsungnya kegiatan adat.

Salah satu peluang pengembangannya dapat dilakukan melalui pembinaan olahraga masyarakat, termasuk dengan melibatkan komunitas yang masih aktif memainkan berbagai jenis olahraga tradisional.

Melalui pembinaan tersebut, olahraga tradisional memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi kegiatan rekreasi yang dapat diikuti berbagai kelompok usia.

Bahkan, olahraga masyarakat memiliki jalur pembinaan hingga tingkat nasional melalui Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS).

Basuki menekankan bahwa pengembangan olahraga tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan prestasi dalam pertandingan.

Lebih dari itu, kegiatan olahraga juga harus memberikan manfaat bagi kesehatan, kebersamaan, dan peningkatan partisipasi masyarakat.

“Yang penting kita semua sehat, sedangkan prestasi itu bonus,” ungkapnya.

Sementara itu, penyelenggaraan olahraga tradisional dalam Erau Adat Pelas Benua 2026 juga menjadi bagian dari kolaborasi sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

Dispora menangani kegiatan olahraga tradisional, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mendukung pelaksanaan prosesi adat, sedangkan Dinas Pariwisata mengambil bagian dalam pertunjukan seni dan budaya.

Keterlibatan Dinas Koperasi dan UMKM turut memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berpartisipasi selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Dengan perpaduan antara kegiatan adat, kesenian, olahraga tradisional, dan aktivitas ekonomi masyarakat, Erau Adat Pelas Benua memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai agenda wisata budaya di Kutai Timur.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat, termasuk pengunjung dari luar daerah, untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi Kutai. (ADV/Kutim).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *