Timesnusantara.com, KUKAR – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan perubahan pola bantuan ternak sapi untuk mendorong pengelolaan peternakan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Ke depan, bantuan sapi diprioritaskan untuk dikelola secara bersama melalui kandang komunal, bukan dibagikan kepada anggota kelompok tani sebagai kepemilikan perorangan.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan perubahan tersebut bertujuan memperkuat kerja sama kelompok peternak sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi dari usaha peternakan.
Menurutnya, pola sebelumnya yang membagikan sapi kepada kelompok untuk kemudian dialokasikan kepada masing-masing anggota dinilai perlu dikembangkan menuju sistem pengelolaan kolektif.
Melalui kandang komunal, sapi bantuan akan ditempatkan dalam satu lokasi dan menjadi aset kelompok. Pengelolaannya dilakukan secara bersama, termasuk pembagian tugas pemeliharaan ternak secara bergiliran di antara anggota.
“Misalnya tahun depan ada bantuan 20 ekor sapi, ternak itu tidak langsung dibagikan kepada masing-masing anggota, tetapi dikelola kelompok dalam satu kandang komunal,” ujarnya Kamis (15/10/2026).
Rifani menjelaskan, sistem tersebut diharapkan mampu menghidupkan dinamika kelompok peternak. Dengan pembagian tugas yang teratur, setiap anggota dapat terlibat aktif dalam pemeliharaan ternak hingga pengelolaan hasil usaha.
Ketika ternak dijual, keuntungan yang diperoleh dapat menjadi tambahan penghasilan bagi anggota kelompok sesuai mekanisme pengelolaan dan kesepakatan bersama.
Selain memperkuat kelembagaan kelompok, kandang komunal juga membuka peluang pemanfaatan limbah peternakan yang selama ini belum sepenuhnya dioptimalkan.
Rifani menilai, keberhasilan usaha peternakan tidak semata-mata diukur dari penjualan daging atau ternak, tetapi juga dari pemanfaatan kotoran sapi yang dihasilkan setiap hari.
Kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung sektor pertanian. Selain itu, limbah peternakan juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.
“Kalau kandangnya komunal, pengumpulan kotoran sapi menjadi lebih mudah. Kotorannya bisa dimanfaatkan untuk pupuk, bahkan diolah menjadi biogas. Setelah gasnya digunakan, sisa limbah padatnya juga masih bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Menurutnya, pemanfaatan hasil samping tersebut dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi kelompok peternak. Dengan demikian, usaha peternakan tidak hanya bergantung pada penjualan ternak, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang bermanfaat.
Penerapan kandang komunal juga dinilai memudahkan Distanak Kukar dalam melakukan pemantauan, evaluasi, serta pengendalian kesehatan ternak. Jika terjadi penyebaran penyakit, penanganan dapat dilakukan lebih terarah karena ternak berada di lokasi yang terpusat.
Karena itu, Distanak Kukar mendorong kelompok penerima bantuan sapi agar menyiapkan sistem kandang komunal sebagai bagian dari pengembangan peternakan daerah.
Di sisi lain, Rifani memastikan layanan klinik hewan yang disediakan Distanak Kukar tetap berjalan dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis.
Melalui perubahan pola bantuan ternak dan penguatan layanan kesehatan hewan tersebut, Distanak Kukar berharap sektor peternakan semakin berkembang, produktivitas kelompok meningkat, serta manfaat ekonomi yang diterima peternak dapat berlangsung secara berkelanjutan. (Adv)
Editor : RF
Sumber : AND
