Timesnusantara.com, KUKAR – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pendampingan keluarga secara langsung. Sebanyak 476 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dikerahkan untuk mengedukasi, memfasilitasi, dan membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan kesehatan ibu dan anak.
Sekretaris DP2KB Kukar, Sri Lindawati, mengatakan tim pendamping memiliki peran penting dalam memastikan keluarga memperoleh informasi dan akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Pendampingan tersebut mencakup komunikasi, edukasi, pemberian informasi, mediasi, hingga fasilitasi bagi keluarga yang membutuhkan bantuan.
Di lapangan, anggota TPK membantu keluarga yang belum rutin membawa anak ke posyandu untuk penimbangan dan pemantauan pertumbuhan. Mereka juga mendampingi ibu hamil yang belum melakukan pemeriksaan kehamilan, termasuk membantu mengatasi kendala transportasi maupun keterbatasan informasi.
“Kalau kendalanya tidak ada yang mengantar atau belum mendapatkan informasi, teman-teman TPK bisa membantu mengantar ke fasilitas kesehatan,” ujarnya Rabu (14/10/2026).
Tidak hanya itu, TPK juga membantu keluarga yang belum memiliki jaminan kesehatan. Melalui koordinasi dengan petugas kesejahteraan sosial di tingkat kecamatan, keluarga dapat difasilitasi untuk memperoleh akses jaminan kesehatan sesuai ketentuan.
Sri Lindawati menjelaskan, pencegahan stunting tidak cukup hanya berfokus pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh.
Menurutnya, pola asuh dan stimulasi yang tepat menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua maupun pengasuh perlu memahami bahwa pemenuhan kebutuhan anak tidak sebatas memberikan makanan dan pengawasan, tetapi juga mencakup stimulasi perkembangan sesuai usia.
“Stunting bukan hanya persoalan anak bertubuh kecil atau kekurangan gizi. Perkembangan anak juga harus diperhatikan. Karena itu, pola pengasuhan dan stimulasi menjadi hal yang penting,” jelasnya.
Selain pendampingan keluarga, DP2KB Kukar juga mengembangkan inovasi Toko Kencana atau Tempat Obrolan dan Konsultasi Keluarga Berencana. Program ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami perencanaan kehidupan berkeluarga secara lebih luas.
Edukasi tersebut menyasar remaja, calon pengantin, pasangan usia subur, hingga keluarga yang membutuhkan informasi mengenai pola pengasuhan, kesehatan reproduksi, pencegahan perilaku seksual berisiko, serta perencanaan jumlah anak.
Sri menegaskan, keluarga berencana tidak hanya berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi, tetapi juga mencakup kesiapan membangun rumah tangga dan merencanakan kehidupan keluarga secara bertanggung jawab.
Untuk memperluas jangkauan edukasi, DP2KB Kukar turut menghadirkan Toko Kencana dalam kegiatan Car Free Day (CFD), yang dilaksanakan setiap minggu pertama setiap bulan. Kegiatan tersebut melibatkan penyuluh keluarga berencana, organisasi perangkat daerah (OPD), serta remaja melalui kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Generasi Berencana (GenRe).
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan informasi mengenai delapan fungsi keluarga, mulai dari fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, hingga pembinaan lingkungan.
Melalui pendampingan keluarga dan inovasi Toko Kencana, DP2KB Kukar berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ibu dan anak, pola asuh, serta perencanaan keluarga semakin meningkat.
“Dengan demikian, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui keterlibatan keluarga dan berbagai unsur masyarakat,” pungkasnya. (Adv)
Editor : RF
Sumber : AND
