Timesnusantara.com – KUTIM – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Mulyono, mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari terbentuknya kepengurusan atau pelaksanaan pelantikan. Organisasi harus mampu menghadirkan program kerja yang jelas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Mulyono saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Pembentukan Asosiasi Guru Motivator Literasi Indonesia (AGUMLI) Kabupaten Kutai Timur, Selasa (20/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia hadir mewakili Bupati Kutai Timur sekaligus menyampaikan apresiasi kepada para penggagas yang memiliki perhatian terhadap pengembangan literasi dan peningkatan mutu pendidikan.
Mulyono menilai organisasi yang baru dibentuk perlu memiliki arah, tujuan, dan pembagian tugas yang terukur. Kejelasan tersebut penting agar pelaksanaan program tidak tumpang tindih dengan peran organisasi atau lembaga lain.
“Di Indonesia ini sangat banyak organisasi yang dibentuk. Tetapi terkadang mereka tidak memahami apa sebenarnya tugasnya. Bahkan ada organisasi yang justru mengerjakan tugas organisasi lain,” ujarnya.
Ia menyebut FGD sebagai tahapan penting untuk menyamakan persepsi sebelum AGUMLI menjalankan berbagai program di Kutim. Forum tersebut diharapkan menghasilkan pemahaman bersama mengenai fungsi organisasi, sasaran kegiatan, serta kontribusi yang dapat diberikan dalam penguatan budaya literasi.
“Harapan saya dengan adanya diskusi ini akan melahirkan beberapa hal. Yang pertama, kita mempunyai satu persepsi yang sama. Itu yang paling penting,” katanya.
Mulyono juga meminta calon pengurus menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Ia tidak ingin organisasi hanya bersemangat saat pembentukan, tetapi kehilangan arah setelah struktur kepengurusan terbentuk.
“AGUMLI ini bukan hanya sekadar dibentuk dan dilantik. Yang paling penting adalah apa yang harus dikerjakan,” tegasnya.
Dalam FGD tersebut, peserta membahas pembentukan struktur AGUMLI Kutim, penjajakan komitmen kolaborasi, serta penyusunan kepengurusan. Agenda juga mencakup permintaan kesediaan sejumlah pihak untuk mengisi posisi Dewan Pembina, Dewan Penasihat, dan Dewan Pakar, sekaligus pembahasan susunan pengurus harian.
Mulyono berharap forum ini menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan gagasan dan masukan konstruktif. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur diperlukan agar AGUMLI tidak hanya bergerak di lingkungan guru, tetapi juga mampu membangun kemitraan dengan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang bagi pelaksanaan kegiatan literasi yang lebih luas dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Program yang disusun nantinya perlu diarahkan pada penguatan budaya membaca, peningkatan kemampuan literasi, serta pengembangan kualitas pendidikan generasi muda.
Dengan perencanaan yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten, pembentukan AGUMLI di Kutai Timur diharapkan menjadi awal gerakan bersama untuk memperkuat literasi. Mulyono menegaskan, keberadaan organisasi akan semakin berarti apabila diwujudkan melalui kerja nyata dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Editor : RF
Sumber : ALW
