Bagikan 👇

Timesnusantara.com, KUKAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan rencana pembangunan stasiun pengisian air sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga banjir.

Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, mengatakan, rencana tersebut menjadi salah satu langkah untuk mempermudah akses air bagi mobil pemadam kebakaran, petugas BPBD, maupun relawan saat melakukan penanganan bencana.

Menurutnya, BPBD Kukar tengah menjajaki pembangunan stasiun pengisian air di dua titik di wilayah Tenggarong sebagai proyek percontohan. Penentuan lokasi dan pengelolaannya masih dikoordinasikan bersama pihak terkait, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), pemerintah kecamatan, serta relawan.

“Kita ingin membuat stasiun pengisian air agar mobil-mobil pemadam kebakaran, baik milik pemerintah maupun relawan, lebih mudah mendapatkan air saat melakukan penanganan bencana,” ujarnya Kamis (22/10/2026).

Aspianur menjelaskan, fasilitas tersebut direncanakan menggunakan mesin pompa dengan kapasitas aliran yang memadai untuk mempercepat pengisian air ke tangki kendaraan. Berdasarkan simulasi awal, pengisian tangki berkapasitas 5.000 liter diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam menit menggunakan pipa berdiameter enam inci.

Dengan sistem tersebut, petugas diharapkan dapat menghemat waktu dalam memperoleh pasokan air, terutama ketika menghadapi kebakaran di kawasan padat penduduk maupun wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Selain untuk penanganan karhutla, keberadaan fasilitas ini juga diproyeksikan mendukung penanggulangan kekeringan di kawasan persawahan dan perkebunan. BPBD Kukar saat ini berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan bantuan air agar dampak kekeringan terhadap tanaman dapat diminimalkan.

Aspianur menyebutkan, kondisi kekeringan perlu mendapat perhatian serius karena sebagian wilayah, terutama kawasan pesisir, dilaporkan telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan. Ketergantungan lahan pertanian dan perkebunan terhadap air hujan membuat sektor tersebut rentan terdampak ketika musim kering berlangsung panjang.

Karena itu, BPBD Kukar akan melakukan pendataan untuk mengetahui lokasi prioritas penanganan, termasuk wilayah yang berisiko mengalami gagal panen.

Di sisi lain, BPBD juga mulai memetakan potensi banjir menjelang musim penghujan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember. Pemetaan dilakukan untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan genangan serta jalur pembuangan air agar tidak menimbulkan persoalan baru di wilayah lain.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah wilayah Timbau di Tenggarong, termasuk daerah yang kerap mengalami genangan. BPBD tengah mengkaji jalur penyaluran air menuju kanal yang dinilai memungkinkan untuk menampung aliran dari kawasan terdampak.

“Kita sedang memetakan, kalau terjadi genangan di suatu wilayah, airnya akan kita alirkan ke mana. Jangan sampai penanganan di satu lokasi justru menyebabkan genangan di tempat lain,” jelasnya.

Selain banjir, masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki retakan tanah. BPBD akan mendorong pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, hingga tingkat RT untuk melakukan langkah mitigasi, termasuk membersihkan gorong-gorong dan saluran drainase agar aliran air tetap lancar.

Aspianur berharap rencana pembangunan stasiun pengisian air dapat direalisasikan secara bertahap melalui koordinasi lintas instansi. Dengan dukungan sarana dan pemetaan risiko yang lebih baik, penanganan bencana di Kukar diharapkan menjadi lebih cepat, efektif, dan terarah. (Adv)

Editor : RF
Sumber : AND

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *