Timesnusantara.com – Samarinda.
Dalam Rapat Paripurna Ke- 38 DPRD Provinsi Kaltim terkait agenda Persetujuan DPRD Provinsi Kaltim terhadap Ranperda Perubahan APBD tahun anggaran 2022, mendapat beberapa tanggapan dari Anggota Dewan DPRD Provinsi Kaltim. Salah satunya yaitu, Anggota Komisi III DPRD Kaltim Sutomo Jabir.
Sutomo Jabir selaku anggota komisi III DPRD Kaltim menyatakan, bersyukur atas Pengesahaan Kesepakatan APBD Perubahan tahun anggaran 2022, dan turut bahagia atas angka Anggaran APBD tahun 2022 memiliki peningkatan, yang awalnya Rp.11,5 triliun rupiah menjadi Rp.14,36 triliun rupiah.
Namun tak sedikit yang ia kritisi mengenai Realisasi Belanja Daerah yang ada. Ia sangat perihatin realisasi anggaran belanja daerah sangat rendah, Sutomo Jabir mencurigai ada sesuatu yang tidak beres di jajaran Pemerintah Provinsi Kaltim.
Pasalnya Sutomo Jabir mengatakan, ada dua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang memiliki anggaran besar terkait belanja daerah.
“Yang pertama Dinas Pendidikan, kalau kita berpikir bahwa sebenarnya Dinas Pendidikan ini enggak ada kesulitan untuk mengeksekusi anggaran mayoritas anggaran di Dinas pendidikan, ini adalah dilakukan secara e-katalog secara elektronik. Terus di mana hambatannya?,” Ucapnya.
Sutomo Jabir menyikapi, yang menjadi letak permasalahannya, jangan sampai mengakomodir kemauan dan keinginan tertentu, kemudian menghambat realisasi anggaran yang ada.
“Yang kedua di Dinas pekerjaan umum. Dinas Pekerjaan Umum, salah satu SKPD yang menampung anggarannya juga begitu besar. Sehingga kesuksesan Dinas Pekerjaan Umum merupakan kesuksesan belanja kita dan itu sangat dinikmati langsung oleh masyarakat.” Ucapnya.
Sutomo Jabir menjabarkan kendalanya, ia mengamati mayoritas kegiatan ini, Dinas Pekerjaan Umum melalui tahapan yang namanya seleksi pelelangan di biro Badan Pengadaan Barang dan Jasa (Barjas).
Sutomo Jabir berharap, kedua instansi ini bisa mendapat perhatian khusus dari PJ Sekda Provinsi Kaltim dan Pemerintah Provinsi Kaltim, agar tidak berdampak kepada realisasi anggaran yang sampai saat ini masih sangat rendah. Tutupnya.
- Penulis RF
