Timesnusantara.com – Samarinda.
Maraknya PKL yang menyerobot ruang publik seperti trotoar, jalur lambat dan taman kota bukan tanpa alasan.
Sani Bin Husain Selaku Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda mengatakan, Pedagang Kaki Lima (PKL) ini tidak memiliki akses terhadap sumber daya yang memadai. Dan disini tugas kita menata dan memberikannya solusi.
“Itu yg dilakukan jogja dengan selasar malioboronya, citywalk purwosari di solo, Atau pasar tradisional modern di jambi yg membuat walikotanya mendapat penghargaan dari penghargaan APKLI Award Tahun 2019, atas kiprahnya dalam bidang tata kelola ekonomi kemasyarakatan kerakyatan, melalui Pedagang Kaki Lima,” ucapnya.
Sani Bin Husain selaku Ketua Fraksi PKS menjelaskan, Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum APKLI Pusat, Ali Mahsum, M.Biomed. di Jambi PKL tidak di sebut pedagang kaki lima, tetapi Pedagang Kreatif Lapangan.
“Paradigma yg menyatakan bahwa kota modern harus bebas PKL adalah paradigma yg ketinggalan zaman,” ungkap Ketua Fraksi PKS itu.
Keberhasilan Penataan pedagang di trotoar dilakukan di berbagai negara. Salah satunya, dia menyebut New York, Amerika Serikat (AS) sebagai pengelola pedagang di trotoar terbaik.
“Anda lihat di kota-kota besar. Bahkan salah satu kota yang memiliki manual pengelolaan PKL terbaik itu New York untuk di trotoar,
Di seluruh dunia, yang namanya sidewalk itu ya ada untuk jalan kaki, ada untuk berjualan. Ada yang berjualannya permanen, ada yang berjualannya mobile. Yang permanen itu kios-kios, toko buku, itu banyak yang permanen,” ucapnya.
PKL di New York dikenal dengan istilah street vendor. Dikutip dari laman resmi The Street Vendor Project, ada sekitar 20.000 PKL di New York City. Dari mulai penjual hot dog, penjual bunga, penjual kaos, seniman jalanan dan truk makanan.
Terkait pengembangan pariwisata Sungai Mahakam oleh Pemkot Samarinda sendiri tengah disusun Ucap Sani Bin Husain. Perencanaannya dilakukan pada tahun 2022, dan ditargetkan pembangunan fisiknya bisa berlangsung pada tahun 2023.
“Kita berharap semua kawasan (Sungai Mahakam) itu tertata tidak hanya ada dermaga nya saja disitu, jadi rencana dermaga wisata ini bisa menyatu dengan ruang umkm, PKL makanan, souvenir, oleh-oleh, Cofee Shoop dan tempat pagelaran budaya. Kita jangan Alergi dengan UMKM Bahkan UMKM yg dikemas unik seperti floating market seperti Muara Kuin dan lok bangian mengundang banyak wisatawan. Saya mendambakan suatu saat orang akan rindu kembali ke Samarinda kota dengan sungai indah dgn suasana tak tergantikan.” Ucapnya.
Sheri Lynn Gibbings dalam jurnalnya, “Street Vending as Ethical Citizenship in Urban Indonesia” (2016), menyebutkan beberapa pedagang kaki lima yang menjadi narasumber penelitiannya menyatakan bahwa mereka adalah rakyat kecil dengan kemampuan terbatas.
Dalam hal ini bisa diartikan para PKL merasa tidak berdaya mengakses penghidupan yang formal karena pemerintah juga tidak dapat menyediakan akses merata serta setara bagi mereka untuk fasilitas pendidikan, modal, dan lapangan pekerjaan.
Sani Bin Husain berharap, Sudah saatnya kita menata PKL dengan hati, karena mereka bukan orang lain tapi saudara dan saudari kita juga yg sedang bangkit mencari sesuap nasi untuk mengisi perutnya dan perut anak-anaknya atau keluarganya di hari itu, harusnya kita bantu. Pungkasnya.
- Penulis SBH
