Timesnusantara.com — Samarinda. Keterlibatan perempuan dalam pemerintahan Kalimantan Timur menunjukkan kemajuan signifikan, khususnya di sektor eksekutif. Namun, kondisi ini ternyata tidak sejalan dengan representasi perempuan di lembaga legislatif. Hal ini menjadi perhatian serius bagi anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti.
Damayanti mengungkapkan bahwa di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltim, sejumlah perempuan kini memegang posisi penting. Beberapa di antaranya ialah Sri Wahyuni yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah, Nurhayati Usman sebagai Sekwan DPRD Kaltim, serta Dasmiah selaku Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat.
Di sektor kesehatan, ada dr. Indah Puspitasari yang memimpin RSJD Atma Husada Mahakam dan RS AWS, serta drg. Shanty Sintessa Wulaningrum yang mengepalai Rumah Sakit Mata.
“Capaian ini menunjukkan bahwa ruang bagi perempuan di birokrasi sebenarnya sangat terbuka. Tapi ironisnya, jumlah perempuan di parlemen justru mengalami penurunan,” ujar Damayanti, Sabtu (24/5/2025).
Menurutnya, pada periode 2019–2024, terdapat delapan anggota DPRD Kaltim perempuan. Namun kini, pada masa bakti 2024–2029, jumlah tersebut menyusut menjadi tujuh orang.
“Ini menjadi tanda peringatan bagi kita semua. Di Dapil Balikpapan, yang dulu ada dua wakil perempuan, sekarang hanya saya yang tersisa. Ini bukan sekadar statistik, tapi berdampak pada representasi suara perempuan di lembaga pengambilan keputusan,” tegas politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Ia menilai keberadaan perempuan di parlemen sangat penting, terutama dalam memastikan kebijakan yang dihasilkan berpihak pada kepentingan kelompok rentan seperti perempuan dan anak.
Damayanti juga tidak menampik bahwa jalan bagi perempuan menuju parlemen penuh tantangan, mulai dari kompetisi politik yang ketat hingga tekanan sosial.
“Butuh dukungan kuat dari keluarga, dan mental yang siap menghadapi stigma yang masih melekat. Tidak semua perempuan bisa dengan mudah menembus itu,” ungkapnya.
Damayanti mengapresiasi keberhasilan para perempuan yang saat ini berhasil lolos ke kursi legislatif. Menurutnya, capaian mereka patut diapresiasi karena datang dari latar belakang berbeda, dengan perjuangan yang tidak ringan.
“Saya bangga dengan tujuh legislator perempuan kita. Meski masih banyak belajar, mereka telah menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap perempuan itu nyata,” ucapnya.
Ia juga menyinggung persepsi usang yang masih menempatkan perempuan hanya pada ranah domestik.
“Selama ini perempuan masih diidentikkan dengan peran di rumah saja. Padahal perempuan juga punya kapasitas untuk memimpin dan berkontribusi dalam kebijakan publik,” tegas Damayanti.
Lebih lanjut, ia berharap akan muncul lebih banyak perempuan yang berani terjun ke dunia politik dan mengambil peran aktif dalam proses pembangunan daerah.
“Kita perlu regenerasi yang kuat. Perempuan harus tampil bukan sekadar simbol, tapi benar-benar jadi penggerak perubahan. Saya yakin, jika diberi ruang, perempuan bisa menunjukkan kualitas luar biasa,” tutupnya. (Advdprdkaltim)
