Timesnusantara.com — Samarinda. Kota Balikpapan kembali menghadapi tantangan klasik yang belum tuntas hingga kini, yaitu keterbatasan pasokan air bersih. Anggota DPRD Kalimantan Timur dari daerah pemilihan Balikpapan, H. Baba, menyuarakan solusi yang menurutnya realistis dan teknis dapat segera diwujudkan, yakni memanfaatkan Sungai Mahakam sebagai sumber air baku yang dialirkan melalui jalur Tol Balikpapan–Samarinda.
Baba menilai jarak sekitar 83 kilometer dari Loa Janan ke Balikpapan tidak seharusnya menjadi kendala besar. Terlebih, kualitas air di Loa Janan dinilai masih sangat layak karena belum tercemar pasang surut air laut.
“Kalau ditangani serius dan didukung anggaran yang cukup, ini sangat memungkinkan. Sumber air di Mahakam, terutama di Loa Janan, masih bagus,” kata Baba, Jum’at (20/6/2025).
Menurutnya, selama ini Balikpapan sangat tergantung pada air tadah hujan, sebuah sistem yang tidak berkelanjutan seiring peningkatan kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan industri.
Ia menyebut bahwa ketergantungan tersebut harus segera diakhiri dengan solusi jangka panjang dan konkret.
“Air tadah hujan tidak bisa lagi diandalkan. Penduduk makin bertambah, kegiatan industri makin berkembang, apalagi Balikpapan akan menopang Ibu Kota Nusantara,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum sempat menyusun kajian awal terkait potensi pengaliran air dari Mahakam ke Balikpapan dengan memanfaatkan trase jalan tol.
Namun, hingga kini kajian tersebut belum masuk tahap realisasi.
“Sudah ada kajian awal dari Kementerian PU, tinggal kita dorong agar ini cepat selesai dan masuk ke tahap pelaksanaan,” tambah Baba, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Kaltim.
Selain Sungai Mahakam, disebutkan pula alternatif pengambilan air baku dari wilayah Sepaku. Namun, hingga saat ini belum terlihat perkembangan berarti.
Menurut Baba, belum ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengembangkan opsi tersebut.
“Rencana dari Sepaku belum jelas kelanjutannya. Kita perlu kejar dua opsi ini agar jangan hanya jadi wacana,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa proyek strategis seperti ini seharusnya menjadi prioritas baik oleh pemerintah provinsi maupun pusat, mengingat kebutuhan air bersih merupakan bagian penting dari ketahanan kota penyangga IKN.
Baba bahkan mendorong agar pembiayaan proyek ini tidak semata mengandalkan pusat, tapi juga melibatkan anggaran daerah.
“Kalau daerah mau mandiri air bersih, maka daerah juga harus berani ikut biayai. Jangan tunggu pusat terus,” katanya.
Proyek air baku lintas wilayah ini dipandang sangat penting demi menjamin keberlanjutan suplai air di Balikpapan, yang kini mulai merasakan tekanan dari keterbatasan sumber daya air lokal. (Adv/dprdkaltim)
