Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Ancaman penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS di Kota Samarinda kini tak lagi bisa dianggap enteng. Lonjakan kasus dan masih minimnya kesadaran masyarakat menjadi alarm keras yang mendorong DPRD Samarinda mengambil langkah lebih strategis.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengusulkan pembentukan panitia khusus (pansus) yang akan secara khusus memfokuskan diri pada dua penyakit menular tersebut.

“Masalah ini terlalu serius untuk ditangani sebatas rutinitas program tahunan. Harus ada langkah khusus yang digerakkan dari ranah legislatif,” ujar Novan, Jumat (20/6/2025).

Ia menjelaskan, meski DPRD telah memiliki empat pansus aktif saat ini, kebutuhan akan pansus baru dinilai mendesak, seiring berkembangnya isu kesehatan yang krusial di tengah masyarakat.

Komisi IV, lanjut Novan, ingin memastikan TBC dan HIV/AIDS tidak tertinggal dari prioritas kebijakan lainnya.

Menurutnya, penanganan dua penyakit tersebut harus dilakukan secara terstruktur dan lintas sektor. Dibutuhkan kolaborasi antara dinas kesehatan, lembaga sosial, hingga elemen masyarakat sipil.

“Selama ini kita masih berhadapan dengan hambatan klasik, yaitu akses layanan yang belum merata, stigma terhadap penderita, dan minimnya edukasi publik. Semua ini harus diselesaikan dengan pendekatan yang lebih sistematis,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pansus yang diusulkan bukan sekadar forum diskusi, tetapi dirancang menjadi penggerak kebijakan nyata. Mulai dari penyusunan regulasi, pengawasan anggaran, hingga evaluasi efektivitas program kesehatan akan menjadi fokus utama pansus tersebut.

“Pansus ini nantinya menjadi ujung tombak perubahan, mendorong kebijakan yang lebih responsif, berpihak pada kelompok rentan, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam akses pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Lebih dari itu, Novan menyebut langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab politik dan moral DPRD terhadap kesehatan publik, terutama dalam menghadapi tantangan penyakit menular yang terus berkembang.

“Target utamanya jelas: Samarinda harus punya sistem kesehatan yang kuat, inklusif, dan tanggap terhadap ancaman penyakit menular. Ini bukan sekadar agenda legislatif, tapi panggilan kemanusiaan,” tutupnya. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *