Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Agusriansyah Ridwan, menegaskan pentingnya penguatan pendidikan berbasis potensi lokal sebagai langkah strategis mengatasi ketimpangan pembangunan sumber daya manusia (SDM) antara wilayah perkotaan dan daerah pinggiran di Kaltim.

Menurutnya, pendekatan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik daerah akan menciptakan SDM yang lebih siap membangun wilayahnya secara mandiri.

Selama ini, ia menilai sistem pendidikan di Indonesia masih terlalu berorientasi pada standar nasional yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas dan potensi daerah.

“Pendekatan pendidikan kita masih sentralistik. Padahal, setiap daerah punya kebutuhan dan kekuatan masing-masing. Kalau pendidikan tidak sesuai dengan kondisi lapangan, pembangunan akan terus timpang,” ujar Agusriansyah, Rabu (9/7/2025).

Ia mencontohkan banyak daerah di Kaltim yang kaya akan sumber daya alam, namun kualitas SDM-nya masih tertinggal. Hal ini terjadi karena pendidikan yang diterapkan belum menggali dan memanfaatkan potensi lokal sebagai bagian dari materi ajar maupun keterampilan kerja.

Agusriansyah mendorong agar kurikulum pendidikan di Kaltim tidak hanya berpatokan pada regulasi pusat, tapi juga menyesuaikan dengan nilai budaya, kebutuhan tenaga kerja, dan peluang ekonomi daerah. Dengan begitu, lulusan yang dihasilkan lebih adaptif dan mampu berkontribusi langsung bagi kemajuan wilayahnya.

“Ini bukan sekadar melestarikan budaya, tapi membentuk generasi yang paham betul bagaimana membangun daerahnya sendiri. Kearifan lokal harus jadi fondasi pendidikan,” tegas politisi PKS itu.

Selain itu, Agusriansyah juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah pesisir maupun pedalaman Kaltim.

Menurutnya, masyarakat di daerah terpencil selama ini hanya menjadi objek pembangunan pendidikan, bukan subjek yang turut menentukan arah pendidikan mereka sendiri.

Untuk itu, ia mendorong kolaborasi nyata antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Pendidikan yang partisipatif, lanjutnya, akan menghasilkan SDM yang tidak hanya unggul secara akademis, tapi juga memiliki identitas yang kuat dan daya saing yang relevan dengan wilayahnya.

“Kalau pendidikan mampu mencerminkan identitas lokal, hasilnya bukan cuma lulusan yang pintar, tapi generasi yang tahu siapa dirinya dan bagaimana memajukan daerahnya,” tutupnya. (Adv/dprdkaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *