Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Darlis Pattalongi, menyoroti persoalan rendahnya minat masyarakat Samarinda menyekolahkan anaknya di sekolah dasar (SD) negeri. Ia menyebutkan, ribuan bangku SD negeri yang tersedia di ibu kota provinsi ini masih banyak yang kosong karena sebagian besar orang tua lebih memilih sekolah swasta.

“Data terakhir menunjukkan masih ada sekitar dua ribu lebih bangku kosong di SD negeri Samarinda. Ini menunjukkan ada dua hal. Pertama, ketersediaan bangku kita memang cukup banyak. Kedua, adanya kepercayaan publik yang lebih tinggi kepada sekolah swasta,” kata Darlis, Kamis (10/7/2025).

Menurutnya, tren ini bukan semata-mata karena kelebihan kapasitas bangku, tetapi juga karena kualitas sekolah swasta yang dinilai lebih unggul oleh masyarakat. Banyak orang tua, terutama yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas, lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah swasta yang dianggap menawarkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

“Kita harus akui bahwa di Samarinda, banyak sekolah swasta yang memang kualitasnya jauh lebih baik dari sekolah negeri. Jadi ini menjadi tantangan besar bagi sekolah negeri untuk segera berbenah,” tegas politisi PAN ini.

Darlis menilai, orang tua cenderung mencari sekolah dasar terbaik bagi anak-anaknya karena pendidikan dasar adalah pondasi penting. Berbeda dengan jenjang SMA, di mana anak-anak sudah lebih dewasa dan orang tua berani menyekolahkan mereka ke luar kota atau bahkan luar pulau, pada jenjang SD, orang tua memilih sekolah yang paling baik di sekitar tempat tinggal mereka.

“Orang tua itu nggak mungkin pisah sama anaknya yang masih SD. Jadi mereka cari sekolah lokal yang bagus, walaupun itu swasta dan biayanya lebih mahal,” jelasnya.

Ia mengingatkan, jika tren ini terus berlanjut tanpa ada perbaikan di sekolah negeri, bukan tidak mungkin pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan akan mengambil langkah tegas, termasuk kemungkinan penutupan sekolah negeri yang dianggap tidak lagi efektif.

“Kalau rasio bangku terus turun dan muridnya makin sedikit, bisa saja kementerian mengambil kebijakan penutupan sekolah negeri. Ini yang tidak kita inginkan,” tegas Darlis.

Sebagai solusi, ia mendorong pemerintah daerah dan pengelola sekolah negeri untuk melakukan introspeksi dan perbaikan layanan pendidikan, baik dari sisi kualitas guru, fasilitas sekolah, hingga metode pembelajaran agar mampu bersaing dengan sekolah swasta.

“Ini warning buat kita semua. Jangan sampai sekolah negeri jadi pilihan kedua atau bahkan pilihan terakhir. Sekolah negeri harus bisa jadi yang terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. (Adv/dprdkaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *