Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Fenomena anak-anak usia sekolah dasar yang bebas mengakses gawai tanpa pengawasan mendapat sorotan dari Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. Ia menilai, kondisi ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya penyimpangan perilaku anak di usia dini.

Menurut Ismail, saat ini banyak anak mengakses berbagai konten tanpa disaring. Sayangnya, orang tua kerap abai terhadap apa yang dikonsumsi anak lewat layar ponsel.

“Anak scroll, scroll, scroll. Orang tua tidak menyeleksi, ini positif atau negatif,” katanya, Selasa (15/7/2025).

Ia mengingatkan bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memilah informasi. Konten dari berbagai sumber terserap tanpa filter, sementara peran pendamping dari orang tua dan lingkungan sering kali tidak hadir.

“Sumber informasi anak-anak bertambah, tapi mereka tidak bisa seleksi. Karena peran orang dewasa tidak hadir,” jelasnya.

Menurutnya, usia ideal anak-anak diperbolehkan memiliki handphone di usia 14 tahun, yakni saat mereka mulai mampu berpikir kritis.

Ia menilai, kasus penyimpangan seksual yang melibatkan anak SD bisa muncul karena paparan konten yang tak layak. Gambar dan video yang mereka lihat memicu rasa ingin tahu dan tindakan meniru.

“Anak lihat konten negatif, lalu mencoba meniru apa yang dilihat,” tambahnya.

Politisi dari Komisi IV ini juga menyoroti peran orang tua dalam memberikan akses gawai. Banyak orang tua menyerahkan ponsel canggih kepada anak tanpa kendali, bahkan melengkapi pengaman dengan sidik jari anak sendiri.

“Yang kasih handphone kan orang tuanya. Kuncinya pakai sidik jari anak, orang tua tak bisa akses,” katanya.

Ia menegaskan, persoalan ini bukan untuk menyalahkan orang tua, melainkan mengingatkan kembali pentingnya keterlibatan mereka. Pengawasan dan edukasi harus menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak di era digital.

Ismail juga mengapresiasi peran guru yang sudah mulai menyaring konten pembelajaran yang sehat. Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan rumah agar anak mendapat pendampingan yang utuh.

“Guru bisa bantu pilih tontonan dan wacana yang baik. Tapi tetap perlu dukungan orang tua,” ucapnya.

Sebagai solusi konkret, Ismail mendorong agar sekolah aktif mengadakan kegiatan parenting. Melalui forum tersebut, sekolah dan orang tua bisa membangun komunikasi yang saling mendukung demi masa depan anak-anak.

“Sekolah perlu gelar parenting. Supaya pendidikan ini nyambung antara sekolah dan rumah,” tutupnya.

Menurutnya, dengan kolaborasi yang kuat, upaya membentuk generasi emas Indonesia akan lebih mudah terwujud. (Adv/dprdsamarinda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *