Timesnusantara.com – KUKAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong diversifikasi ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan industri garam rakyat berbasis teknologi.
Inovasi ini tengah diterapkan di Desa Kersik, Kecamatan Marang Kayu, sebagai bagian dari proyek percontohan.
Melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kukar mulai mengadopsi metode tunnel atau rumah terowongan sebagai teknik produksi garam yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim tropis dengan curah hujan tinggi.
Teknologi ini memungkinkan proses penguapan tetap berlangsung meski dalam kondisi cuaca tidak menentu.
Kepala DKP Kukar, Muslik, menjelaskan bahwa metode tunnel telah dipilih karena efektif menjaga stabilitas produksi.
Sistem ini menggunakan struktur plastik dan pipa sepanjang 15Ă—4 meter per unit yang berfungsi melindungi air garam selama proses kristalisasi.
Dari satu unit rumah tunnel, petani garam di Desa Kersik mampu menghasilkan antara 600 hingga 700 kilogram garam per panen. Metode ini telah diterapkan oleh dua kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) yang dibentuk di desa tersebut.
Muslik menambahkan, pada 2024 lalu, penerapan metode ini berhasil mencatat produksi hingga satu ton garam. Hal ini menunjukkan bahwa metode tunnel layak dikembangkan lebih luas di wilayah Kukar yang memiliki karakteristik geografis serupa.
Selain sebagai solusi produksi, DKP Kukar juga melihat potensi metode ini untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Beberapa wilayah lain seperti Samboja bahkan mulai dilirik untuk pengembangan serupa.
“Kita coba manfaatkan kualitas air pantai yang sudah memenuhi standar untuk produksi garam. Ini peluang yang bisa memperkuat ekonomi lokal,” ujar Muslik, pada Sabtu (26/7/2025).
Namun begitu, pengembangan industri garam ini masih menghadapi tantangan pada aspek kapasitas produksi dan jaringan pemasaran. Untuk itu, DKP Kukar telah merancang pelatihan dan pemberian bantuan peralatan kepada para pelaku KUGAR.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan ekosistem usaha garam yang mandiri dan berdaya saing, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga membuka peluang pasar luar daerah.
Muslik memastikan bahwa program ini akan terus dikembangkan untuk memperluas dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir. Ke depan, produksi garam di Kukar diharapkan dapat menjadi sektor unggulan baru.
“Melalui pengembangan industri garam, masyarakat pesisir bisa memiliki sumber penghasilan alternatif yang lebih stabil,” tutupnya.
