Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUKAR. Desa Segihan di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak harus dimulai dari lahan luas.

Di desa ini, mengambil langkah sederhana seperti dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang dinilainya justru menjadi awal perubahan besar.

Melalui program Satu Rumah Satu Bioflok, warga didorong untuk menanam sayur dan membudidayakan ikan di halaman rumah mereka.

Inisiatif ini sudah berjalan sejak ahir tahun 2024 dan menjadi penggerak utama perubahan pola konsumsi dan produksi pangan masyarakat.

Kepala Desa Segihan, Hendra Wahyudi, menyebutkan bahwa pendekatan ini sebagai cara membangun ketahanan dari bawah. Menurutnya, pekarangan rumah memiliki potensi besar yang sering kali diabaikan.

“Kami ingin setiap rumah punya ketahanan pangannya sendiri. Pekarangan itu bisa diolah, bisa jadi sumber pangan. Tidak harus menunggu bantuan datang,” ujarnya saat dikonfirmasi bua telepon pada Sabtu (2/8/2025).

Lebih lanjut, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga. Kolam bioflok dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele, sementara hasil panen sayur turut membantu menekan pengeluaran rumah tangga.

Tahun ini, pihak Desa Segihan mengalokasikan anggaran Rp600 juta dari Dana Desa untuk memperkuat sektor ini. Dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur pendukung seperti embung, drainase, dan sistem irigasi agar kebutuhan air warga tercukupi.

“Kami tak ingin lagi ada cerita gagal panen karena sawah kering. Makanya kami pastikan petani dapat air,” tegas Hendra.

Embung yang dibangun pun tak hanya menjadi penampung air semata. Di beberapa lokasi, embung dimanfaatkan sebagai kolam ikan, dan sebagian warga mulai mencoba beternak sebagai sumber pendapatan tambahan.

Melihat perkembangan itu, Desa Segihan dapat menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukanlah mimpi besar yang sulit dicapai. Dengan memaksimalkan potensi yang ada, desa ini bergerak menuju ketahanan yang berkelanjutan.

“Kami mulai dari rumah, dari langkah kecil. Tapi dampaknya sudah mulai terasa,” pungkas Hendra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *