Timesnusantara.com Samarinda – Ketua DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud, menyoroti lambatnya progress perbaikan fender Jembatan Mahakam yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan karena menyangkut keselamatan jembatan dan pengguna transportasi sungai.
Menurut laporan yang diterimanya dari Komisi II DPRD Kaltim, pekerjaan perbaikan seharusnya sudah rampung pada September atau paling lambat November 2025. Namun, hingga kini belum ada kejelasan.
“Kita belum tahu apakah pekerjaan itu sudah selesai atau belum. Kalau belum, berapa besar progresnya?” ujar Hasanuddin, Jumat (21/11/2025).
Untuk mencari kepastian, Komisi II akan memanggil sejumlah pihak dalam hearing pada 26 November 2025, mulai dari KSOP, Pelindo, Perusda MBS, kepolisian, Polair, hingga Kejaksaan. DPRD ingin memastikan semua pihak memahami urgensi masalah yang ada.
Hasanuddin menegaskan fungsi krusial fender sebagai pelindung utama tiang jembatan dari benturan kapal. Tanpa sistem pelindung yang berfungsi baik, risiko kerusakan fatal sangat besar.
“Kalau tiang jembatan sampai tertabrak, dampaknya bisa mengarah pada bencana nasional,” tegasnya, mengingatkan kembali tragedi runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara pada tahun 2011.
Selain mengancam keselamatan, kerusakan jembatan akan berdampak langsung pada mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Samarinda.
DPRD sebelumnya telah merekomendasikan pembatasan lalu lintas kapal berbobot lebih dari 500 GRT selama perbaikan berlangsung. Namun, Hasanuddin menilai kebijakan tersebut belum berjalan maksimal.
“KSOP dan Pelindo seharusnya bisa menghentikan sementara aktivitas kapal besar demi memastikan fender aman digunakan. Namun sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” jelasnya.
Ia memastikan DPRD Kaltim akan terus mengawal perbaikan fender hingga tuntas, demi keselamatan publik dan kelancaran aktivitas ekonomi di Sungai Mahakam.
Editor : RF
Penulis : Dani
