Timesnusantara.com – Samarinda — Pemerataan tenaga pendidik menjadi salah satu pekerjaan rumah sektor pendidikan Kota Samarinda. DPRD Kota Samarinda mendorong pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan guru secara lebih terukur, akurat, dan berkeadilan agar kekurangan tenaga pengajar tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Persoalan kebutuhan guru menjadi perhatian serius karena sejumlah sekolah, terutama di kawasan pinggiran dan sekolah dengan rombongan belajar yang terus bertambah, masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. DPRD menilai kondisi tersebut harus diselesaikan secara bertahap dan berbasis data.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, S.H., M.H, mendorong pemerintah tidak hanya menghitung jumlah guru secara keseluruhan, tetapi melihat kebutuhan secara rinci berdasarkan mata pelajaran, jenjang pendidikan, status kepegawaian, dan wilayah sebaran sekolah.
“Kebutuhan guru ini tidak bisa dihitung secara global saja. Harus dipetakan secara detail. Sekolah A butuh guru apa, jenjang SD, SMP, kekurangannya di mapel apa, di wilayah mana. Kalau datanya akurat, penempatannya baru bisa tepat sasaran,” ujar Ismail Latisi.
Menurutnya, data yang akurat dan ter-update akan sangat membantu pemerintah dalam menentukan sekolah mana yang membutuhkan tambahan tenaga pendidik, baik melalui rekrutmen ASN, PPPK, maupun penataan distribusi guru yang sudah ada.
“Jangan sampai ada sekolah yang kekurangan guru, sementara ada sekolah lain yang kelebihan. Ini yang harus dibenahi distribusinya. Kasihan siswa kalau jam pelajaran kosong karena tidak ada gurunya,” tegasnya.
Selain jumlah guru, DPRD juga meminta aspek pemerataan diperhatikan secara serius. Jangan sampai ada sekolah yang kelebihan tenaga pendidik sementara sekolah lain justru mengalami kekurangan yang berkepanjangan, sehingga menimbulkan kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah.
DPRD berharap persoalan tersebut masuk dalam perencanaan pendidikan secara berkelanjutan dan masuk dalam skala prioritas di APBD. Sehingga kebutuhan tenaga pengajar dapat dipenuhi tanpa mengabaikan kualitas dan kesejahteraan guru itu sendiri.
“Pendidikan itu investasi jangka panjang. Kalau kita mau menyiapkan generasi Samarinda yang unggul dan berdaya saing, ya pemenuhan tenaga pendidiknya harus menjadi prioritas utama. Guru adalah ujung tombak pendidikan,” tutupnya.
Editor: RF
Sumber: A
