Timesnusantara.com – KUTIM – Jarak tak seharusnya menjadi tembok yang memisahkan anak dengan ruang kelas. Di sejumlah pelosok Kutai Timur (Kutim), sekolah filial menjadi jalan tengah bagi peserta didik yang tinggal terlalu jauh dari sekolah induk, sementara jumlah siswa di wilayah mereka belum memadai untuk membentuk sekolah mandiri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono menjelaskan, sekolah filial pada dasarnya hadir karena kondisi khusus, terutama keterbatasan akses dan jarak. Model tersebut diterapkan ketika jumlah peserta didik di suatu kawasan belum mencukupi untuk mendirikan sekolah sendiri, tetapi lokasi tempat tinggal mereka terlalu jauh apabila harus mengikuti pembelajaran di sekolah induk.
“Jadi gini, filial, filial itu kan sekolah boleh dibilang sekolah khusus ya, khusus dalam artian ini mau dijadikan sekolah sendiri belum cukup siswanya, mau bergabung dengan sekolah induknya ini kejauhan. Jadi filial itu lebih pada keterbatasan akses jarak,” kata Mulyono saat diwawancarai di Masjid Agung Al-Faruq, Bukit Pelangi, kawasan pemerintahan Sangatta, Rabu (16/9/2026) kemaren.
Kondisi geografis Kutai Timur membuat permukiman masyarakat tidak selalu terkonsentrasi seperti di kawasan perkotaan. Di daerah perdesaan dan pelosok, masyarakat dapat tinggal dalam kelompok-kelompok permukiman yang berjauhan. Persoalan muncul ketika pada satu lokasi hanya terdapat sekitar 10 hingga 15 anak usia sekolah, sementara perjalanan menuju sekolah terdekat sulit ditempuh setiap hari.
Dalam situasi seperti itu, filial menjadi solusi agar layanan pendidikan mendekat kepada siswa. Alih-alih seluruh peserta didik harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah induk, proses pembelajaran dapat dilakukan di lokasi filial dengan guru yang datang memberikan pelajaran.
“Aksesnya juga susah, makanya di sana disebut filial. Nah, filial ini juga kita bantu nih, sambil kita persiapkan kalau memang layak nantinya dijadikan sebuah sekolah, ya kita bantu sekolah,” ujar Mulyono.
Mulyono memperkirakan terdapat belasan filial di Kutai Timur. Salah satu wilayah yang disebut memiliki layanan tersebut adalah Bengalon. Keberadaan filial terutama berkaitan dengan kebutuhan pendidikan masyarakat di lokasi yang memiliki hambatan akses menuju sekolah reguler.
Meski kegiatan belajar berlangsung di tempat berbeda, filial bukan satuan pendidikan yang berdiri sendiri secara administratif. Data peserta didik tetap tercatat di sekolah induk. Kurikulum yang digunakan juga mengikuti sekolah induknya.
“Jadi filial itu, datanya semua masuk induk. Jadi filial tidak berdiri sendiri,” jelasnya.
Karakter tersebut membuat filial dapat dipahami sebagai cabang layanan pembelajaran dari sekolah induk. Guru mendatangi lokasi tempat peserta didik belajar sehingga anak-anak tidak harus selalu melakukan perjalanan jauh. Pengaturan tenaga pendidik dalam pelaksanaannya tetap berkaitan dengan sekolah induk.
Menurut Mulyono, pembentukan filial pada prinsipnya mempertimbangkan cara yang paling memungkinkan untuk memastikan siswa memperoleh pendidikan. Pemerintah dan sekolah perlu melihat apakah lebih mudah peserta didik mendatangi sekolah induk atau justru guru yang datang menuju lokasi tempat tinggal siswa.
“Mana yang lebih memudahkan, apakah siswanya datang ke sekolah atau guru ini datang ke sana?” katanya.
Namun, keberadaan sekolah filial bukan diarahkan menjadi solusi permanen untuk seluruh wilayah. Disdikbud Kutim terus memonitor perkembangannya dan mencari pilihan terbaik bagi setiap lokasi. Ketika jumlah peserta didik berkembang dan persyaratan memungkinkan, filial dapat dipertimbangkan untuk menjadi sekolah baru.
“Intinya filial ini kita monitor, kita perhatikan, kita cari solusi apakah akan dijadikan sebuah sekolah baru ataukah ada solusi lain,” ujar Mulyono.
Alternatif lain juga dapat ditempuh melalui dukungan pihak swasta. Mulyono mencontohkan keterlibatan perusahaan dalam menyediakan sarana antarjemput bagi siswa. Apabila akses transportasi dapat diatasi, peserta didik berpeluang kembali mengikuti pembelajaran secara langsung di sekolah induk tanpa membutuhkan filial.
“Misalnya ada perusahaan, bagaimana perusahaan bisa membantu antarjemput. Nah, tentu gitulah. Tapi intinya filial itu adalah kondisional, dan suatu waktu bisa hilang,” jelasnya.
Sekolah filial dengan demikian menjadi jawaban sementara atas persoalan geografis dan persebaran penduduk di Kutai Timur. Selama jarak masih menyulitkan anak mencapai sekolah induk, layanan pendidikan dibawa lebih dekat kepada mereka. Disdikbud selanjutnya akan memantau setiap filial untuk menentukan apakah kelak layak berkembang menjadi sekolah mandiri atau dapat digantikan dengan solusi akses pendidikan lainnya. (ADV/Kutim).
Editor : RF
Sumber : ALW
