Timesnusantara.com, KUKAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan pengembangan pariwisata tetap berjalan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Sejumlah festival yang telah menjadi agenda rutin dan memiliki keterkaitan dengan adat serta budaya masyarakat menjadi prioritas untuk tetap dilaksanakan.
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin mengatakan, kebijakan tersebut membuat pemerintah daerah perlu melakukan penyesuaian terhadap agenda festival, khususnya kegiatan yang baru akan dimulai.
“Karena ada efisiensi, agenda yang sifatnya baru belum dilaksanakan. Yang masih bisa dilaksanakan sampai akhir tahun adalah festival yang sudah berjilid, artinya sudah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya,” kata Rendi.
Sejumlah agenda yang tetap menjadi perhatian di antaranya Festival Muara Kaman yang telah dilaksanakan pada 9 September, Erau, serta Pesta Laut Pesisir ke-7 yang dijadwalkan berlangsung di Samboja.
Menurut Rendi, keberlanjutan festival tidak hanya berkaitan dengan agenda hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga adat dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
“Yang kita prioritaskan adalah kegiatan yang menyentuh adat dan budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Kukar Land Festival kemungkinan tidak dilaksanakan tahun ini karena harus menyesuaikan dengan kebijakan efisiensi anggaran. Pemerintah daerah mempertimbangkan karakter kegiatan dan keterkaitannya dengan agenda budaya dalam menentukan prioritas.
“Kukar Land sepertinya tahun ini dibatalkan karena efisiensi. Kukar Land sifatnya sejauh ini masih kita anggap seremoni, walaupun itu meningkatkan daya tarik wisata,” jelasnya.
Dalam pengembangan pariwisata, Pemkab Kukar juga mengusung konsep One District, One Festival yang telah masuk dalam program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Konsep tersebut diarahkan agar setiap kecamatan memiliki ruang untuk mengembangkan festival sesuai potensi lokal. Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak hanya terpusat di Tenggarong, tetapi dapat tumbuh di berbagai wilayah Kukar.
Rendi menyebut Erau, Festival Muara Kaman, dan Pesta Laut Pesisir sebagai contoh kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan adat, budaya, ritual, dan keyakinan masyarakat.
“Lebih ke budaya dan ritual masyarakat serta keyakinan masyarakat kita yang kita akomodasi dan sudah kita verifikasi jauh hari sebelumnya,” katanya.
Selain pelestarian budaya, keberadaan festival di berbagai kecamatan diharapkan dapat memperkuat daya tarik wisata sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi.
Rendi juga mendorong perusahaan yang beroperasi di Kukar mengambil bagian dalam pengembangan kegiatan pariwisata. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha diperlukan agar potensi wisata di setiap kecamatan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Ia optimistis pariwisata Kukar memiliki masa depan yang baik apabila seluruh pemangku kepentingan dapat berkontribusi sesuai peran masing-masing.
“Kalau ditanya optimistis terhadap masa depan pariwisata Kutai Kartanegara? Sangat optimistis,” pungkasnya. (Adv)
Editor : RF
Sumber : AND
