Timesnusantara.com, KUKAR – Pelaksanaan Festival Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dinilai memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Meski kondisi daya beli masyarakat mengalami penurunan, geliat ekonomi selama pelaksanaan Erau tetap terlihat dibandingkan hari-hari biasa.
Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Kukar, Muhammad Iryanto, mengatakan, setiap pelaksanaan Erau pada dasarnya memberikan pengaruh terhadap aktivitas perekonomian daerah, terutama melalui meningkatnya kunjungan masyarakat dan wisatawan.
“Seperti Erau, pasti akan berpengaruh terhadap kenaikan ekonomi. Cuma mungkin bisa dimaklumi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena perputaran ekonomi juga dipengaruhi daya beli yang sementara ini banyak mengalami penurunan,” ujar Iryanto Senin (28/9/2026).
Menurutnya, meski belum dapat memastikan besaran dampak ekonomi yang dihasilkan, aktivitas perdagangan dan jasa selama Erau tetap menunjukkan adanya perputaran ekonomi. Pemerintah daerah nantinya akan menghitung dampak tersebut berdasarkan informasi dari berbagai sumber.
“Kita belum tahu persis angkanya. Nanti kita hitung dari informasi berbagai sumber. Mudah-mudahan memang cukup signifikan,” katanya.
Iryanto menilai pelaksanaan Erau tahun ini juga menunjukkan perkembangan positif dari sisi kunjungan. Keramaian masyarakat hingga kehadiran wisatawan asing menjadi indikator bahwa Erau memiliki daya tarik yang semakin luas.
Ia menambahkan, masuknya Erau sebagai salah satu agenda pariwisata nasional menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat penyelenggaraan festival tersebut.
“Paling tidak titik tolaknya, Erau ini sudah menjadi agenda pariwisata nasional. Itu yang paling penting. Nanti tentu akan ada akselerasi dan penguatan agar memberikan dampak yang lebih baik lagi ke depannya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, menyampaikan bahwa tren kunjungan selama pelaksanaan Erau tahun ini menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Menurutnya, peningkatan kunjungan tidak hanya terjadi pada hari-hari tertentu, tetapi relatif merata selama rangkaian pelaksanaan Erau.
“Kalau melihat trennya, alhamdulillah peningkatan kunjungan sangat luar biasa. Tidak hanya pada hari-hari tertentu, tetapi hampir merata di setiap hari pelaksanaan Erau,” ungkap Heriansyah.
Ia berharap momentum tersebut dapat mendorong terbentuknya ekosistem budaya yang berkelanjutan. Dengan demikian, Erau tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM dan masyarakat.
“Harapan kita, budaya ini memiliki ekosistem yang tumbuh. Jadi bukan sekadar pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak terhadap UMKM dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Heriansyah menambahkan, salah satu hal yang menjadi pembeda dalam pelaksanaan Erau tahun ini adalah hadirnya ekspo pendidikan. Kegiatan tersebut melibatkan satuan pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah untuk memperkenalkan berbagai inovasi dan potensi pendidikan kepada masyarakat.
Di antaranya penerapan pendekatan pendidikan yang terintegrasi dengan bidang pertanian dan peternakan. Melalui konsep tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pembelajaran secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk belajar dan melakukan praktik secara langsung.
Menurut Heriansyah, pendekatan tersebut penting untuk membangun cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian dan peternakan. Terlebih, perkembangan teknologi telah mendorong perubahan dari sistem konvensional menuju pertanian modern.
“Anak-anak kita bisa belajar dan praktik langsung. Ini juga menjadi hal yang baik untuk menumbuhkan pemahaman bahwa menjadi petani atau peternak memiliki masa depan yang bagus, karena proses modernisasi cara bertani sudah bergeser dari konvensional ke modern,” pungkasnya. (Adv)
Editor : RF
Sumber : AND
