Timesnusantara.com – Samarinda.
Kebutuhan akan air merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi. Pertama, dari segi kebutuhan fisik manusia.
Meningkatnya permintaan akan persediaan air bersih menjadi tantangan yang sering dihadapi diberbagai tempat khususnya di Samarinda.
Permintaan akan air bersih meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan perubahan tata guna lahan, sehingga berdampak pada berkurangnya persediaan air bersih bagi kebutuhan makluk hidup.
Diketahui Wali Kota Samarinda Andi Harun mengusulkan kepada Perumdam Tirta Kencana untuk memaksimalkan pelayanan Instalasi Pengolahan Air (IPA) serta membuka sambungan baru. Upaya ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan akan air bersih warga Kota Samarinda.
Banyaknya pemukiman baru dan meningkatnya jumlah penduduk Kota Tepian menyebabkan melonjaknya kebutuhan serta pemasangan aliran air. Sehingga, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memprioritaskan program penyaluran air bersih tersebut.
Menanggapi soal ini, Anggota Komisi II DPRD Samarinda Muhammad Rudi mengatakan kebutuhan akan air bersih akan terus menjadi suatu persoalan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Ia mengapresiasi langkah Pemkot melalui Perumdam Tirta Kencana yang menurutnya sudah sangat signifikan.
“Saat ini IPA Sungai Kapih juga telah dibangun, kedepannya di IPA Cendana akan ada intake baru dengan kersama dari Korea. Hal ini memang bukan perkara mudah, tidak dalan 2 sampai 3 hari selesai membangunnya,” ungkapnya.
Hal tersebut tidak semata-mata hanya menjadikan wacana saja. Pemkot mengambil langkah baru-baru ini dan telah sepakat meneruskan penyelesaian IPA Bendang II.
Menurutnya, pembangunan IPA Bendang II tersebut telah mangkrak selama belasan tahun karena terhambat persoalan hukum.
“Saya rasa jika persoalan ini sudah terselesaikan dan IPA disana sudah berfungsi, insya Allah kebutuhan air Samarinda bisa terpenuhi. Tapi, tergantung bagaimana kepala daerahnya,” ucapnya.
Selain itu, ia pun mengakui untuk merealisasikan penyelesaian IPA Bendang II bukan perkara yang mudah dengan adanya persoalan yang komplek di dalamnya. Namun, jika hal ini tidak dilanjutkan, akan menimbulkan kerugian untum Pemkot.
“Memang membutuhkan dana miliaran lagi untuk membenahinya. Tapi sangat disayangkan kalau sampai mangkrak, tanahnya tidak bisa di apa-apakan sehingga investor rugi dan Pemkot juga rugi,” ungkapnya.
Politikus Partai Gerindra ini pun berharap sejumlah permasalahan masyarakat mengenai air bersih bisa ditanganin secara bertahap. Tentunya, dengan perhatian dari wali kota yang sedang memprioritaskan kebutuhan akan air bersih demi masyarakat Kota Samarinda.
“Tidak seperti di kota-kota lain, permasalahan di Samarinda ini dipengaruhi soal Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta bertambahnya penduduk,” pungkasnya.
