Timesnusantara.com – Kukar. Bupati Kukar Edi Damansyah meminta kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menerapkan nilai nilai dasar berAKHLAK dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
ASN BerAKHLAK merupakan kepanjangan dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Nilai ini pertama kali diluncurkan pada 21 Juli 2021 oleh Presiden Joko Widodo untuk membentuk budaya kerja ASN yang profesional dan berkarakter baik.
Adapun nilai nilai dasar ASN berAKHLAK ialah, berorientasi pelayanan dalam memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Akuntabel dalam melaksanakan tugas dengan jujur dan bertanggung jawab serta disiplin.
Kemudian kompetensi, ASN harus memiliki kompetensi yang memadai dan terus meningkatkan kompetensi diri, untuk menjawab tantangan yang selalu berubah. Harmonis yaitu harus menghargai setiap orang apapun latar belakangnya.
Selanjutnya, loyal yaitu memegang teguh ideologi Pancasila dan setia kepada Negara Republik Indonesia (NKRI). Adaptif yakni, cepat menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan. Dan kolaboratif ialah, bekerja sama dengan pihak pihak terkait dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Kukar akan menyusun road map untuk memastikan kesinambungan implementasi ASN BerAKHLAK. Penerapan nilai ini harus berasal dari kesadaran individu yang ingin terus meningkatkan kompetensi diri.
“Dari loporan yang diterima masih banyak pegawai yang kurang adaptif terhadap perubahan, enggan keluar dari zona nyaman, serta kurang berinovasi dalam pekerjaan. Selain itu, proporsi pembagian tugas juga dinilai belum merata,” kata Edi Damansyah.
Untuk memastikan efektivitas ASN dalam melaksanakan tugas, diperlukan dukungan dari pimpinan di setiap unit kerja, peningkatan sosialisasi, serta pemberian penghargaan dan sanksi yang sesuai bagi ASN.
Penerapan nilai ASN BerAKHLAK didasarkan pada UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN serta Surat Edaran Menteri PAN-RB No. 20 Tahun 2021 tentang Implementasi Core Values ASN BerAKHLAK.
“Kalau ada perubahan, resistansinya sering tinggi. Tolong dimaknai bahwa audit bukan mencari kesalahan, tetapi untuk perbaikan. Kita bisa tahu kelemahan dan memaksimalkan kinerja dari sana,” tegasnya. (adv)
