Timesnusantara.com – Samarinda. Perbincangan seputar Tugu Pesut yang berdiri di bundaran Lembuswana, Kota Samarinda kembali mencuat ke publik. Hal ini menyusul kemunculan perbandingan dari warganet antara tugu tersebut dengan Tugu Biawak di Wonosobo, yang viral karena tampilannya dianggap realistis serta biayanya yang jauh lebih rendah.
Warganet membandingkan dua tugu ini dari sisi bentuk dan pengeluaran anggaran. Tugu Biawak di Wonosobo disebut menelan biaya sekitar Rp50 juta, sementara Tugu Pesut Samarinda diketahui dibangun dengan anggaran lebih dari Rp1 miliar.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menilai bahwa membandingkan dua karya yang berdiri di lokasi dan konteks berbeda tidaklah tepat, apalagi jika hanya dari sisi bentuk atau nominal anggaran.
“Tidak bisa kita samakan tugu di Wonosobo dengan yang di Samarinda. Tugu Pesut hadir dengan pendekatan siluet, bukan representasi bentuk realistis. Konsepnya berbeda. Ini bukan soal kemiripan bentuk semata,” ujar Deni, Selasa (22/4/2025).
Ia menjelaskan bahwa gaya siluet dalam Tugu Pesut mencerminkan arah seni kontemporer yang kini banyak diterapkan di kota-kota besar dunia.
“Gaya ini tidak berusaha meniru bentuk asli secara utuh, melainkan menonjolkan garis dan makna abstrak. Ini banyak kita lihat di kota modern, bahkan hingga Singapura,” tambahnya.
Menurut Deni, nilai artistik tak bisa diukur hanya dari besar kecilnya anggaran ataupun dari kesan visual realistis. Ia menekankan bahwa anggaran yang digunakan turut mempertimbangkan material, teknik pengerjaan, serta pesan simbolik yang ingin disampaikan.
“Masing-masing tugu dibangun dengan latar belakang, tujuan, dan target penikmat yang berbeda. Jadi, tak bisa kita pukul rata begitu saja,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Tugu Pesut menjadi simbol baru Kota Samarinda yang membawa semangat pembaruan. Tugu ini diharapkan menjadi ikon modern, membedakan diri dari patung Pesut sebelumnya yang berdiri di kawasan Tepian Mahakam.
“Setiap kebijakan pembangunan, termasuk pembangunan tugu ini, tentu melewati perencanaan matang oleh pemerintah kota. Kami di DPRD mengawal itu, dan semua langkah tetap mengedepankan pertanggungjawaban,” tutupnya. (R)
