Timesnusantara.com – KUKAR. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mulai bersiap menghadapi tekanan anggaran menyusul proyeksi menurunnya APBD 2026 secara drastis.
Dari sebelumnya lebih dari Rp10 triliun di tahun 2025, anggaran tahun depan diperkirakan hanya mencapai Rp7 triliun.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengungkapkan bahwa penurunan harga batu bara global menjadi penyebab utama. Ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap dana bagi hasil dari sektor sumber daya alam kini menjadi risiko yang nyata bagi keuangan daerah.
“Ketika harga batu bara turun, APBD kita ikut goyah. Karena itu kita mulai ubah strategi. Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus jadi tulang punggung,” ucap Aulia sapaan akrabnya pada, Rabu (23/7/2025).
Ia menegaskan bahwa struktur pendapatan Kukar masih timpang. Dana transfer masih mendominasi, sementara PAD dan retribusi belum memberi kontribusi signifikan. Saat ini PAD Kukar bahkan belum menembus Rp500 miliar, jauh dari target ideal di atas Rp1 triliun.
Untuk membalikkan situasi, Aulia meminta seluruh organisasi perangkat daerah melakukan pemetaan potensi pendapatan yang bisa digarap. Beberapa sektor yang jadi sorotan di antaranya pariwisata, pertanian, retribusi layanan, serta pengembangan produk ekspor lokal.
Langkah konkret juga mulai dijalankan lewat peluncuran program Koperasi Merah Putih di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak. Di sana, Aulia menyampaikan pentingnya membuka jalur ekspor untuk produk-produk desa dan kelurahan.
“Tahun 2026 kita akan menggelar misi dagang ke Singapura, Malaysia, dan Brunei lewat rute langsung dari Balikpapan. Produk lokal harus siap ikut serta,” ujarnya.
Pemkab akan memberikan dukungan mulai dari peningkatan standar mutu produk, pengemasan, hingga penghubung pasar lewat forum dagang lintas negara. Sektor seperti pertanian, makanan olahan, kerajinan, hingga ekowisata dinilai punya potensi besar jika dikelola dengan baik.
Langkah diversifikasi ekonomi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menjaga stabilitas fiskal. Pemerintah daerah ingin membangun fondasi ekonomi yang tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif yang fluktuatif.
“Kunci kekuatan fiskal itu ada dua: barang Kukar bisa ke luar, dan orang luar tertarik datang ke Kukar,” tutup Aulia.
