Timesnusantara.com – Samarinda — Kondisi kemarau panjang yang mulai melanda Kalimantan Timur membuat DPRD Kota Samarinda meminta pemerintah kota meningkatkan langkah antisipasi dan mitigasi sejak dini terhadap kemungkinan krisis air bersih dan dampak ikutan lainnya.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, S.H, menilai kondisi cuaca yang cukup ekstrem saat ini perlu direspons melalui perencanaan yang lebih cepat, terukur, dan tidak reaktif.
“Kemarau sudah mulai terasa di Samarinda. Ini harus kita antisipasi dari sekarang. Jangan tunggu sampai warga teriak tidak ada air baru kita bergerak. Mitigasi harus disiapkan dari sekarang,” ujar Deni Hakim Anwar.
Penurunan debit air Sungai Mahakam menjadi salah satu indikator serius yang perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan ketersediaan air baku PDAM dan kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari. Jika debit terus menurun, dikhawatirkan akan berdampak pada distribusi air bersih ke pelanggan.
“Sungai Mahakam itu sumber utama air baku kita. Kalau debitnya turun, otomatis pasokan air bersih terganggu. Ini yang harus diwaspadai dan dicarikan solusi cadangannya,” tegasnya.
DPRD mendorong pemerintah kota untuk berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah provinsi, BMKG, BPBD, dan instansi teknis terkait seperti Perumdam Tirta Kencana untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang komprehensif.
Selain ketersediaan air bersih, kondisi kemarau yang berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, penurunan kualitas udara, serta persoalan lingkungan dan kesehatan lainnya.
“Dampak kemarau itu tidak hanya soal air bersih saja. Potensi karhutla meningkat, debu di mana-mana, kesehatan warga juga bisa terganggu. Jadi penanganannya harus menyeluruh,” tambahnya.
DPRD berharap pemerintah tidak menunggu sampai masyarakat mengalami kesulitan air dan mengantre air bersih sebelum mengambil tindakan nyata di lapangan.
Mitigasi sejak dini, seperti pengecekan sumber air alternatif, penyiapan armada tangki air, perbaikan jaringan distribusi yang bocor, dan imbauan hemat air kepada masyarakat, dinilai jauh lebih efektif untuk mengurangi dampak apabila kondisi kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Editor: RF
Sumber: A
