Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Rencana pengembangan kawasan wisata pesisir di Desa Maloy, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, terpaksa tertunda. Selain terbentur karakteristik geografis pantai yang berlumpur dan keruh, proyek ini juga terkendala pemangkasan anggaran yang drastis.

Kepala Desa Maloy, Rusli, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan proposal pengembangan wisata. Konsep awal yang disiapkan meliputi pembangunan gazebo di atas laut serta pagar pengaman untuk area berenang anak-anak.

Namun, rencana tersebut terkendala masalah pendanaan. Dukungan anggaran yang awalnya direncanakan sebesar Rp2 miliar mengalami pemangkasan bertahap hingga tersisa sekitar Rp500 juta, dan hingga kini dana tersebut belum juga cair.

““Awalnya dana yang dijanjikan sebesar Rp2 miliar. Namun, dalam perjalanan, pemerintah memangkas anggaran tersebut menjadi Rp1 miliar. Belum lama ini, anggarannya kembali dipangkas Rp500 juta, sehingga tersisa sekitar Rp500 juta. Sampai sekarang, dana tersebut juga belum masuk,” ujar Rusli.

Selain persoalan anggaran, Rusli menyebut kondisi alam di kawasan pesisir Maloy turut menjadi tantangan dalam pengembangan wisata. Kondisi tersebut berbeda dengan kawasan wisata Pulau Miang yang memiliki air laut lebih jernih. Sementara Pantai Maloy memiliki karakter pantai berlumpur dengan kondisi air yang cenderung keruh.

Kondisi air yang keruh ini tidak hanya menurunkan daya tarik visual, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap faktor keselamatan pengunjung, termasuk potensi ancaman satwa liar seperti

Dengan berbagai hambatan tersebut, pemerintah desa bersama pihak terkait harus mengkaji ulang kelayakan teknis dan aspek keamanan sebelum melanjutkan gagasan pengembangan wisata pesisir di Desa Maloy. (ADV/KUTIM).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *