Timesnusantara.com — Samarinda. Meski berada dalam usia wajib belajar, ratusan anak di Kota Samarinda dilaporkan tidak mengenyam pendidikan formal.
Data dari DPRD Kota Samarinda mencatat bahwa pada tahun 2024, sekitar 700 anak mengalami putus sekolah atau bahkan tidak pernah mengakses pendidikan sama sekali.
Kondisi ini juga terlihat jelas di Kecamatan Samarinda Seberang. Hasil penjaringan yang dilakukan DPRD bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menemukan sedikitnya 97 anak yang tidak bersekolah di wilayah tersebut.
Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menegaskan bahwa anak-anak tersebut perlu mendapatkan akses ke program pendidikan kesetaraan, seperti paket A, B, dan C. Namun, ia menekankan bahwa pendidikan saja tidak cukup. Setelah lulus, mereka harus dibekali keterampilan agar bisa langsung memasuki dunia kerja.
“Kita perlu memberikan keterampilan yang bisa menjadi bekal mereka untuk bekerja setelah menyelesaikan pendidikan kesetaraan,” ujarnya, Minggu (16/3/2025).
Namun, tantangan utama dalam upaya ini adalah rendahnya minat anak-anak terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan. Banyak di antara mereka sudah terbiasa mencari uang di jalanan, sehingga sulit untuk diajak kembali belajar.
“Mereka sudah terbiasa mendapatkan uang dengan cara yang kurang baik. Ini yang membuat sosialisasi sangat penting agar mereka mau mengikuti program pelatihan,” tambahnya.
Selain itu, kendala lain yang muncul setelah pelatihan adalah sulitnya akses modal usaha bagi peserta dari keluarga kurang mampu.
Meskipun Pemerintah Kota Samarinda telah menyediakan skema Kredit Bertuah di Bankaltimtara untuk membantu masyarakat membuka usaha, banyak calon penerima yang kesulitan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Sri berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, untuk membantu anak-anak ini membangun masa depan yang lebih baik setelah mendapatkan pelatihan.
“Kita harus bekerja sama mengatasi kendala ini agar anak-anak yang putus sekolah bisa kembali ke jalur pendidikan dan memiliki peluang ekonomi yang lebih baik,” tutupnya. (R)
