Bagikan 👇

Timesnusantara.com — Samarinda. Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Adnan Faridhan, menyoroti fenomena buzzer dalam politik yang semakin tidak terkontrol. Ia mengkhawatirkan bahwa keberadaan mereka justru dapat menghambat kebebasan berpendapat dan merusak ruang demokrasi yang sehat.

Menurutnya, buzzer bukanlah hal baru dalam dunia politik, tetapi pola kerja mereka kini semakin agresif dalam membentuk opini publik. Sayangnya, banyak dari mereka yang digunakan untuk menyerang pihak-pihak yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Adnan menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, kritik merupakan bagian penting dalam menciptakan pemerintahan yang transparan. Namun, kehadiran buzzer justru kerap membungkam kritik dengan menyebarkan narasi negatif terhadap para pengkritik.

“Saat ada yang menyampaikan kritik, buzzer langsung bermunculan dengan serangan-serangan yang memojokkan mereka,” ungkapnya, Selasa (18/3/2025).

Ia pun mengingatkan bahwa fenomena ini bisa berdampak pada semakin sempitnya ruang bagi individu yang memiliki pemikiran kritis, terutama di media sosial. Padahal, masyarakat yang aktif menyuarakan pendapatnya adalah salah satu elemen utama dalam menjaga keseimbangan demokrasi.

Lebih lanjut, Adnan mengutip pernyataan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, yang menyebutkan bahwa jika seseorang tidak memiliki kesalahan, maka tidak ada alasan untuk takut terhadap kritik.

“Kalau kita benar, kenapa harus takut? Seperti yang sering disampaikan Pak Gubernur, kalau bersih kenapa harus risih?” katanya.

Sebagai politikus Partai Golkar, Adnan berharap pemerintah dapat menjamin kebebasan berpendapat tanpa adanya intervensi dari kelompok-kelompok yang mencoba membungkam kritik. Ia menekankan bahwa demokrasi yang sehat hanya bisa terwujud jika setiap individu memiliki hak yang sama untuk menyuarakan gagasannya tanpa intimidasi. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *