Timesnusantara.com – Samarinda. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, menekankan pentingnya menyelaraskan arah pembangunan daerah dengan visi besar nasional yang dikedepankan Presiden RI Prabowo Subianto. Hal ini disampaikannya sebagai bagian dari komitmen untuk mengintegrasikan Kaltim ke dalam kerangka pembangunan nasional yang lebih terstruktur dan sistematis.
Menurut Rudy, seluruh aparatur pemerintahan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota harus mengacu pada delapan prioritas nasional atau Asta Cita yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Ia menegaskan bahwa jabatan gubernur bukan hanya pemimpin daerah, tetapi juga representasi pusat di daerah, yang wajib memastikan harmoni kebijakan lintas wilayah.
“Pembangunan bukan dimulai dari bawah ke atas, tapi dari atas ke bawah. Kita harus menjadi bagian dari satu orkestrasi nasional. Semua program daerah harus sejalan dengan Asta Cita,” kata Rudy Mas’ud, Minggu (13/4/2025).
Delapan butir Asta Cita mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari penguatan ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, penciptaan lapangan kerja, hingga percepatan pembangunan infrastruktur dan reformasi birokrasi. Keseluruhan program tersebut akan menjadi acuan utama Kaltim dalam lima tahun mendatang.
Tak hanya berbicara soal sinkronisasi visi, Rudy juga menyoroti pendekatan kerja yang harus diubah secara mendasar. Ia menilai era sekarang membutuhkan cara kerja yang lebih cerdas, dinamis, dan berbasis teknologi.
“Pemerintahan hari ini tak bisa lagi bersandar pada rutinitas semata. Kita butuh ide-ide inovatif dan keberanian memanfaatkan kecanggihan teknologi, termasuk AI. Pola kerja lama tidak akan membawa kita ke mana-mana,” ujarnya tegas.
Dengan keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN), Rudy melihat Kaltim kini berada di garis depan perhatian nasional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas infrastruktur, pelayanan publik, dan sumber daya manusia menjadi keharusan agar provinsi ini mampu tampil sebagai cerminan kemajuan Indonesia.
“Kita tidak bisa jadi wajah Indonesia jika standar kita masih setengah jalan. Kita harus setara atau bahkan melampaui Jakarta. Itu hanya mungkin jika kita kerja cerdas, bukan sekadar kerja keras,” tutupnya. (R)
