Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Penyakit Jembrana menjadi salah satu penyakit ternak yang mendapat perhatian serius dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Kabupaten Kutai Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Kutim, drh. Cut Meutia, mengatakan penyakit tersebut perlu diwaspadai karena dapat menyebar dari satu ternak ke ternak lainnya.

“Kalau Jembrana, ketika satu ternak sudah terkena itu bisa menyebar ke yang lain,” ujar Cut Meutia saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026) kemaren.

Ia menjelaskan, salah satu potensi penyebaran penyakit tersebut berkaitan dengan vektor seperti lalat, sehingga kebersihan lingkungan peternakan juga penting diperhatikan.

Beberapa tanda klinis yang dapat muncul pada ternak yang sakit antara lain perdarahan pada bagian tubuh tertentu.

“Bisa keluar darah di bagian lubang hidung, kuping, sampai bagian pori-pori kulit ternak,” jelasnya.

Karakter penyakit Jembrana berbeda dengan sejumlah penyakit lain seperti Lumpy Skin Disease (LSD).

Menurut Cut Meutia, LSD ditandai antara lain dengan bentol atau benjolan pada kulit ternak dan masih dapat ditangani melalui pengobatan.

Sementara untuk kasus penyakit yang menunjukkan gejala serius, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan dan pengambilan sampel untuk memastikan penyebabnya.

“Kalau ada gejala yang mengarah ke PMK, Jembrana atau LSD, kita melakukan pemeriksaan, mengambil sampel darah dan dilakukan uji,” katanya.

Langkah pemeriksaan laboratorium penting agar penanganan yang dilakukan sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang ternak.

Selain penanganan kasus, DTPHP Kutim mengutamakan pencegahan dengan vaksinasi yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

Vaksinasi mencakup sejumlah penyakit prioritas, termasuk Jembrana, PMK dan LSD.

Kewaspadaan juga diterapkan terhadap lalu lintas ternak dari luar Kutai Timur. Meskipun ternak yang dikirim umumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan, pemantauan tetap diperlukan karena beberapa penyakit memiliki masa ketika tanda klinis belum terlihat.

DTPHP mengimbau pengelolaan kesehatan ternak terus menjadi perhatian karena penyebaran penyakit dapat berdampak terhadap populasi hingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak.

Deteksi dini diharapkan membuat penanganan bisa dilakukan secepat mungkin sebelum penyakit menyebar lebih luas ke ternak lainnya. (ADV/KUTIM).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *