Bagikan 👇

Timesnusantara.com – KUTIM – Pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif ternak unggas dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Selain memiliki kandungan protein yang dapat dimanfaatkan untuk pakan, budidaya maggot juga membuka peluang pengolahan sisa bahan organik agar tidak langsung menjadi limbah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DTPHP Kutim, drh. Cut Meutia, mengatakan pengembangan maggot di Kutai Timur memang belum terlalu familiar secara luas, meski kegiatan budidayanya sudah mulai ditemukan.

“Kalau di sini memang belum terlalu familiar, tetapi sudah ada budidaya untuk maggot itu sendiri,” kata Cut Meutia saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026) kemaren.

Menurutnya, salah satu keunggulan maggot sebagai sumber pakan adalah kandungan proteinnya yang relatif tinggi sehingga dapat diarahkan untuk kebutuhan ternak, khususnya unggas.

“Maggot itu bisa diberikan ke unggas karena proteinnya lebih tinggi. Mungkin itu juga yang membuat pengembangannya diarahkan ke sana,” ujarnya.

Konsep peternakan yang memanfaatkan maggot juga dinilai menarik karena dapat menghubungkan pengelolaan sisa makanan dengan penyediaan sumber pakan.

Sisa bahan makanan tertentu dapat dimanfaatkan sebagai media atau sumber makanan dalam proses budidaya maggot.

“Kalau ada sisa makanan, bisa diberikan ke maggot. Jadi sisa makanan itu tidak terbuang sia-sia,” jelas Cut Meutia.

Pendekatan tersebut membuka peluang terbentuknya sistem peternakan yang lebih terpadu.

Di satu sisi, peternak memperoleh alternatif bahan pakan. Di sisi lain, bahan organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali.

Pemanfaatan sumber pakan alternatif menjadi relevan karena biaya pakan merupakan salah satu komponen penting dalam usaha peternakan unggas.

Cut Meutia sebelumnya mengatakan harga pakan ayam cenderung lebih sulit dikendalikan dibandingkan pakan sapi yang masih dapat mengandalkan rumput alami maupun hasil fermentasi hijauan.

“Kenaikan biaya pakan bahkan sempat ikut memengaruhi harga ayam,” terangnya.

Karena itu, inovasi sumber pakan lokal seperti maggot memiliki peluang untuk terus dipelajari dan dikembangkan sesuai kebutuhan peternak.

Meski demikian, penerapannya membutuhkan pengetahuan budidaya, pengolahan dan pemberian pakan yang tepat agar manfaatnya dapat diperoleh secara optimal.

Pengembangan konsep peternakan terpadu tersebut juga berpotensi mendukung efisiensi usaha sekaligus mendorong pemanfaatan kembali bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. (ADV/Kutim).

Editor : RF
Sumber : ALW

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *